Spesifikasi Jembatan

Spesifikasi Jembatan

<a href="https://www.mscengineeringgre.com/"><img src="Spesifikasi Jembatan.jpg" alt="Spesifikasi Jembatan"></a>

Spesifikasi Jembatan adalah sebuah dokumen yang penting dalam pelaksanaan pembangunan jembatan. Dokumen ini berfungsi sebagai panduan atau acuan bagi para pelaksana dalam melaksanakan pekerjaannya. Spesifikasi teknis jembatan merupakan bagian integral dalam dokumen kontrak yang memuat ketentuan teknis yang harus dipenuhi sesuai dengan perjanjian kontrak. Spesifikasi jembatan ini mengandung perintah, larangan, dan ketentuan teknis lainnya yang harus dilaksanakan oleh pelaku jasa konstruksi, baik itu jasa konstruksi eksternal maupun internal dari perusahaan yang menyewa jasa konstruksi.

Spesifikasi teknis ini memiliki sifat sebagai panduan yang jelas dan tegas bagi semua pihak yang terlibat dalam pembangunan jembatan, termasuk tim eksternal dan internal perusahaan kontraktor. Hal ini penting untuk memastikan bahwa semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang persyaratan teknis yang harus dipenuhi. Dengan mematuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan, akan tercipta kualitas yang terjamin, risiko kesalahan dapat dikurangi, dan pelaksanaan proyek jembatan dapat berjalan dengan lebih efisien.

Oleh karena itu, pemahaman dan implementasi yang baik terhadap Spesifikasi Jembatan menjadi kunci utama dalam mencapai keberhasilan proyek jembatan. Spesifikasi ini menjadi acuan yang sangat penting bagi jasa konstruksi eksternal maupun internal dari perusahaan yang menyewa jasa konstruksi, sehingga perlu diperhatikan dengan seksama untuk memastikan bahwa pekerjaan konstruksi jembatan dapat dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Spesifikasi teknis jembatan memiliki tujuan sebagai berikut:
  1. Menetapkan persyaratan teknis yang disusun oleh perencana untuk mencapai mutu bangunan sesuai dengan yang diinginkan oleh Pemilik.
  2. Menjadi bagian dari perjanjian kerja antara Pemilik dan Pelaksana.
  3. Menjadi acuan pelaksana dalam menyusun strategi harga penawaran dalam proses tender.
  4. Menjadi acuan prosedur kerja untuk mewujudkan rencana perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan guna mencapai mutu, waktu pelaksanaan, dan dana yang telah disepakati dalam perjanjian kontrak.
  5. Menjadi acuan utama bagi pelaksana dalam mencapai efisiensi sumber daya, peningkatan waktu pelaksanaan, dan peningkatan keuntungan.

Sebagai penyedia jasa, pelaksana wajib memahami spesifikasi teknis sebagai dokumen resmi kesepakatan bersama, memahami bagian-bagian yang harus dicapai dan dipatuhi, serta selalu berusaha menemukan cara-cara dan alternatif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam spesifikasi. Pelaksana juga harus dapat menyusun usulan kesepakatan baru (change order) yang akan mendukung pelaksanaan pekerjaan secara efektif dan efisien. Selain itu, pelaksana juga harus mampu melaksanakan pekerjaan berdasarkan spesifikasi atau dengan cara lain yang lebih baik dan disetujui bersama. Pelaksana juga harus memiliki visi untuk mewujudkan bangunan sesuai dengan persyaratan minimum yang diminta oleh spesifikasi, namun tetap berupaya untuk bekerja dengan cepat, efektif, efisien, menghemat sumber daya, dan meningkatkan keuntungan dengan cara yang sehat.

Meskipun secara logika pelaksana harus berpihak kepada kepentingan kontraktor dalam kasus perbedaan pendapat, mutu tidak boleh diabaikan, karena mutu adalah hal yang harus dicapai. Definisi mutu mencakup:

  • Kesesuaian dengan persyaratan dan tuntutan.
  • Kesesuaian dengan penggunaan.
  • Bebas dari kerusakan dan cacat.
  • Memenuhi kebutuhan pelanggan sejak awal dan setiap saat.
  • Memberikan kepuasan kepada pelanggan.


Spesifikasi dan Budaya

  • Spesifikasi merupakan bagian dari budaya hukum. Namun, masyarakat kita umumnya belum sepenuhnya menerima hukum sebagai ukuran dan nilai kehidupan, sehingga sering timbul masalah yang sulit dijelaskan dan diselesaikan.
  • Seharusnya dalam konteks hukum, pihak perencana, pengawas, dan pelaksana memiliki kedudukan yang setara dengan kontraktor, namun kenyataannya hal ini tidak terjadi.
  • Atasan sering memberikan petunjuk yang tidak dapat diikat secara hukum, namun dianggap setara dengan hukum itu sendiri.
  • Aturan dan kesepakatan seringkali dianggap sebagai formalitas, sedangkan yang berlaku adalah kebiasaan yang didasarkan pada basa-basi, rasa sungkan, kesopanan, dan menjaga hubungan antar manusia. Rasa takut terhadap penguasa masih kental, sehingga mengalahkan ketentuan yang bersifat legal.
  • Hubungan antar manusia (seperti keluarga, pertemanan, dan rasa setia kawan) masih sulit dikalahkan oleh kepatuhan terhadap hukum atau konsekuensi dari keputusan yang telah diambil.

Beberapa Hal yang Perlu Dihindari dalam Spesifikasi adalah:
  • Tumpang tindih pembayaran: hasil kerja yang sudah dihitung dan dibayar dalam satu pasal pembayaran dihitung kembali dalam pembayaran lain.
  • Penetapan metode yang disyaratkan dan hasil akhir yang disyaratkan: menimbulkan kebingungan dalam memilih metode mana yang harus dipilih, atau jika kedua-duanya dipilih, maka akan terjadi pemborosan.
  • Penetapan batasan yang tidak jelas, misalnya tentang batas pekerjaan yang membolehkan penggunaan tenaga manusia atau harus menggunakan mesin.
  • Ketidakpastian petunjuk: petunjuk akan ditetapkan oleh Direksi dan memberikan biaya tambahan berupa cadangan untuk menanggung risiko.
  • Menyebutkan produk yang hanya dipasok oleh satu sumber: hal ini dapat menyebabkan monopoli pasokan dan biaya yang tinggi, kecuali jika ada alasan khusus yang telah disepakati bersama.

2. Sistematika Spesifikasi

Spesifikasi secara umum mengikuti suatu struktur penulisan atau tata bahasa yang digunakan untuk semua departemen terkait.

Tata bahasa penulisan spesifikasi adalah sebagai berikut:

2.1. Bagian Umum

Dalam bagian ini dijelaskan tentang ruang lingkup yang termasuk dalam bagian terkait, yang akan berhubungan dengan analisis harga satuan yang harus dipahami oleh pengguna jasa saat melakukan penawaran. Tanpa pemahaman ini, penawaran dapat menjadi salah dan berpotensi menyebabkan kerugian yang besar bagi penyedia jasa.

2.2. Persyaratan

Bagian ini menjelaskan tentang standar referensi atau acuan yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan, serta toleransi-toleransi yang diperbolehkan atau menjadi acuan dalam pengukuran dan penerimaan hasil kerja. Hal ini juga mencakup bahan-bahan yang harus digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan serta persyaratan pekerjaan sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai.

2.3. Pelaksanaan

Pada bagian ini dijelaskan tentang cara-cara pelaksanaan pekerjaan yang mengacu pada pedoman pelaksanaan atau standar yang berlaku. Bagian ini menjelaskan tahapan pelaksanaan pekerjaan, termasuk penggunaan bahan, persyaratan penggunaan peralatan, dan cara pelaksanaannya. Oleh karena itu, penting bagi penyedia jasa untuk memahami bagian ini agar produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan mutu yang tercantum dalam spesifikasi atau persyaratan pengguna jasa.

2.4. Pengendalian Mutu

Bagian ini mencakup persyaratan penerimaan hasil kerja dan cara pengendalian mutu dalam pelaksanaan pekerjaan. Pengendalian mutu sangat penting bagi penyedia jasa yang ingin mencapai keberhasilan dan memuaskan pelanggan. Bagian ini mencakup masalah penerimaan bahan, jaminan mutu, perbaikan, dan pemeliharaan selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

2.5. Pengukuran dan Pembayaran

Pengukuran dan pembayaran merupakan bagian terakhir atau tahap terakhir setelah pekerjaan selesai dilaksanakan. Pengukuran hasil kerja dilakukan sebelum pembayaran dilakukan. Pengetahuan tentang pengukuran sangat penting bagi penyedia jasa agar dapat membuat analisis harga satuan atau penawaran yang tepat saat lelang. Pembayaran juga terkait erat dengan pengukuran. Bagian ini menjelaskan dasar pembayaran yang akan dilaksanakan sesuai dengan bagian terkait. Oleh karena itu, pemahaman terhadap bagian ini penting bagi penyedia jasa dalam melaksanakan tugasnya.

Spesifikasi jembatan terdiri dari 18 bagian terkait berikut:
  • 7.1. Jenis Beton
  • 7.2. Beton Prategang
  • 7.3. Baja Tulangan
  • 7.4. Struktur Baja
  • 7.5. Kayu
  • 7.6. Tiang Pancang
  • 7.7. Sumuran
  • 7.8. Campuran Semen
  • 7.9. Pasangan Batu
  • 7.10. Dinding Batu dan Bronjong
  • 7.11. Sambungan Pergerakan
  • 7.12. Landasan Jembatan
  • 7.13. Sandaran
  • 7.14. Tanda Nama Jembatan (MARKING)
  • 7.15. Pembongkaran Struktur
  • 7.16. Penahan
  • 7.17. Saluran Pembuangan
  • 7.18. Pengaman Jembatan

Berikut ini akan dijelaskan secara garis besar tentang isi dari masing-masing bagian terkait yang tercakup dalam spesifikasi jembatan. Selain dari bagian-bagian tersebut, pekerjaan struktur juga berkaitan dengan pekerjaan jalan dan jembatan secara umum.

<a href="https://www.mscengineeringgre.com/"><img src="Pengukuran dan Pembayaran dalam Spesifikasi Jembatan.png" alt="Pengukuran dan Pembayaran dalam Spesifikasi Jembatan"></a>

3. Beton

3.1. Umum

Pekerjaan ini mencakup pelaksanaan seluruh pekerjaan beton sebagai berikut:
  • Struktur beton bertulang
  • Beton tanpa tulangan
  • Beton prategang
  • Struktur beton pracetak
  • Beton untuk struktur komposit

Pekerjaan beton ini meliputi penyiapan tempat kerja untuk pengecoran beton, pemeliharaan pondasi, pengadaan penutup beton, lantai kerja, pemompaan, dan lain sebagainya.

3.1.1. Mutu Beton

Mutu beton yang tercakup dalam spesifikasi teknis ini adalah sebagai berikut:
  • Mutu tinggi 35-65 MPa atau K 400-800 kg/cm2 untuk beton prategang seperti tiang pancang, gelagar, dan plat.
  • Mutu sedang 20 – < 35 MPa atau K 250 – < K 400 kg/cm2 untuk beton bertulang, lantai beton jembatan rangka baja, gelagar beton, diafragma, kerb beton pracetak, dan gorong-gorong.
  • Mutu rendah 15-< 20 MPa atau K 175- < K 250 kg/cm2 untuk struktur beton tanpa tulangan seperti siklop, trotoar, dan pasangan batu kosong.
  • Mutu rendah 10-< 15 MPa atau K 125-< K 175 kg/cm2 untuk lantai kerja, penimbunan kembali dengan beton.

3.2. Persyaratan

Standar rujukan yang digunakan dalam bagian ini adalah sebagai berikut:
  • SNI
  • AASHTO
  • ASTM

Pekerjaan bagian lain yang terkait meliputi:
  • Ketentuan teknis, pasangan batu dengan mortar, gorong-gorong, drainase porous.
  • Galian, timbunan.
  • Beton prategang, baja tulangan, asukan semen, pembongkaran struktur.

3.2.1. Persyaratan

Persyaratan ini mencakup hal-hal berikut:
  • Cakupan Jaminan Mutu.
  • Mutu bahan yang dipasok.
  • Proses pelaksanaan.
  • Hasil akhir.

3.2.2. Persyaratan Bahan

  • Semen:
    • Jenis semen Portland sesuai SNI.
    •  Hanya satu merk dalam satu campuran.
  • Air:
    • Bersih, bebas dari bahan organik seperti minyak, garam, asam, basa, dan gula.
    • Lolos pengujian sesuai AASHTO T 26.
  • Agregat:
    • Ketentuan gradasi agregat sesuai ketentuan.
    • Ukuran maksimum agregat kasar ¾ jarak bersih tulangan.
    • Sifat agregat harus bersih, kuat, keras, dan berasal dari pemecahan batu.
    • Bebas dari bahan organik.
  • Batu untuk beton siklop:
    • Keras, awet, bebas retak, rongga, dan kuat terhadap cuaca.
    • Bersudut runcing, bebas kotoran, minyak, dan bahan lain yang mempengaruhi ikatan dengan beton.
  • Bahan tambah:
    • Jumlah tidak lebih dari 5% dari berat semen atau sesuai spesifikasi produk.
    • Sesuai dengan jenis penggunaannya dan klasifikasinya.
    • Bahan mineral seperti fly ash, pozzolan, mikro silika sesuai ASTM C 608-94a.

3.2.3. Toleransi untuk Beton Pracetak

  • Toleransi dimensi:
    • Panjang < 6 m = 5 mm.
    • Panjang > 6 m = 15 mm.
    • Balok, pelat lantai, kolom dinding = 0 mm - < 10 mm.
  • Toleransi bentuk:
    • Persegi (selisih panjang diagonal) < 10 mm.
    • Kelurusan atau lengkungan untuk panjang < 3 m = 12 mm.
    • Panjang 3 – 6 m = 15 mm.
    • Panjang > 6 m = 20 mm.
  • Toleransi kedudukan:
    • Kolom pracetak terhadap rencana = 10 mm.
    • Permukaan horizontal terhadap rencana = 10 mm.
    • Permukaan vertikal dari rencana = 20 mm.
  • Toleransi alinyemen vertikal:
    • Penyimpangan ketegakan kolom dan dinding = 10 mm.
  • Toleransi ketinggian (elevasi):
    • Puncak lantai kerja di bawah fondasi = 10 mm.
    • Puncak lantai kerja di bawah pelat injak = 10 mm.
    • Puncak kolom, tembok kepala, balok melintang = 10 mm.
  • Toleransi alinyemen horizontal:
    • 10 mm dalam 4 m panjang mendatar.
    • Toleransi untuk penutup/selimut beton tulangan:
    • Selimut beton < 3 cm = 0 sampai 5 mm.
    • Selimut beton 3 cm – 5 cm = 0 sampai 10 mm.
    • Selimut beton 5 cm – 10 cm = 10 mm.

3.2.4. Pengajuan Kesiapan Kerja

  • Kontraktor harus mengirimkan contoh semua bahan yang akan digunakan dan dilengkapi dengan data pengujian seluruh sifat bahan.
  • Kontraktor harus mengirimkan rancangan campuran untuk masing-masing mutu beton 30 hari sebelum dilaksanakan, untuk kemudian dilakukan pembuatan trial mix dalam langkah membuat job mix.
  • Kontraktor menyerahkan hasil pengujian pengendalian mutu secara tertulis.
  • Untuk pengujian kuat tekan beton dengan umur 3 hari, 7 hari, 14 hari, dan 28 hari setelah tanggal pencampuran, hasilnya dibandingkan dengan hasil trial mix agar didapat job mix yang sesuai dengan desain mix.
  • Kontraktor mengirim detail gambar dan perhitungan rinci untuk perancah yang digunakan.
  • Kontraktor harus memberitahu Direksi Pekerjaan minimal 24 jam sebelum dilakukan pencampuran dan pengecoran setiap jenis beton, disertai metode pelaksanaannya, kapasitas alat yang digunakan, personil, jadwal pelaksanaan, untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

3.2.5. Bahan dan Tempat Kerja

  • Penyimpanan dan perlindungan bahan:
    • Untuk penyimpanan semen, kontraktor harus menyediakan tempat yang terlindung, lantai kayu yang lebih tinggi 30 cm dari permukaan tanah, dan ditutup dengan plastik. Penyimpanan tidak boleh lebih dari 3 bulan sejak tanggal penyimpanan di lokasi pekerjaan.
    • Agregat harus terlindung dan tidak langsung terkena matahari dan hujan sepanjang waktu pengecoran.
  • Kondisi tempat kerja:
    • Untuk pengecoran bangunan atas jembatan harus terlindung dari sinar matahari secara langsung.
    • Pengecoran tidak boleh dilaksanakan apabila tingkat penguapan melampaui 1,0 kg/m2/jam dan selama turun hujan, udara penuh debu atau tercemar. Dengan menggunakan grafik yang disediakan, pelaksana akan dapat mengantisipasi permasalahan yang akan terjadi di lapangan dan dapat mempersiapkan kondisi material yang memenuhi syarat.

ACI Nomograph

ACI Nomograph adalah sebuah alat yang digunakan untuk memperkirakan tingkat evaporasi air permukaan dari beton. ACI (American Concrete Institute) Nomograph ini membantu para profesional di industri beton untuk menentukan laju penguapan air dari permukaan beton yang terbuka ke udara.

Nomograph ACI ini didasarkan pada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat evaporasi air, termasuk suhu udara, kelembaban relatif udara, kecepatan angin, dan suhu permukaan beton. Dengan memasukkan nilai-nilai ini ke dalam nomograph, engineer dapat mengestimasi tingkat evaporasi air permukaan beton.

Proses penggunaan nomograph ACI ini relatif sederhana. Engineer harus mengetahui nilai-nilai faktor lingkungan yang relevan, seperti suhu udara, kelembaban relatif, kecepatan angin, dan suhu permukaan beton pada lokasi tertentu. Kemudian, Engineer akan mencari nilai-nilai ini pada nomograph dan menghubungkannya dengan garis lurus atau garis lengkung yang sesuai. Di titik perpotongan antara garis-garis tersebut, Engineer akan mendapatkan estimasi tingkat evaporasi air permukaan beton.

Estimasi yang diberikan oleh nomograph ACI ini dapat membantu dalam perencanaan dan pemeliharaan struktur beton, terutama ketika menyangkut masalah seperti pengeringan cepat beton baru atau perlindungan terhadap beton dari kekeringan yang berlebihan.

Namun, penting untuk diingat bahwa nomograph ACI hanya memberikan estimasi kasar dan bukan pengukuran yang akurat. Faktor-faktor lain, seperti penggunaan penutup atau perlindungan tambahan, juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan evaporasi air permukaan beton yang sebenarnya.

Dengan menggunakan ACI Nomograph, Engineer dapat mengestimasi laju evaporasi air permukaan beton dengan cepat dan mudah, membantu engineer dalam mengambil keputusan yang lebih baik dalam pengelolaan beton dan perawatannya.


3.2.6. Persyaratan Kerja

  • Rancangan campuran harus mengikuti proporsi bahan dan berat sesuai dengan SNI 03-2834-2000.
  • Penyedia jasa harus membuat dan menguji campuran percobaan sesuai dengan SNI 03-2834-2000. Proses ini harus disaksikan oleh Direksi Pekerjaan dan menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sesuai dengan lapangan.

Jenis Beton Mutu Beton Ukuran Agregat Maks. (mm) Rasio Air / Semen Maks. (terhadap berat) Kadar Semen Minimum (kg/m3 dari campuran)
fc' (MPa) σbk' (kg/cm2)
Mutu Tinggi 50 K600 19 0,35 450
45 K500 37 0,4 395
25 0,4 430
19 0,4 455
38 K450 37 0,425 370
25 0,425 405
19 0,425 430
35 K400 37 0,45 350
25 0,45 385
19 0,45 405
Mutu Sedang 30 K350 37 0,475 335
25 0,475 365
19 0,475 385
25 K300 37 0,5 315
25 0,5 345
19 0,5 365
20 K250 37 0,55 290
25 0,55 315
19 0,55 335
Mutu Rendah 15 K175 37 0,6 265
25 0,6 290
19 0,6 305
10 K125 37 0,7 225
25 0,7 245
19 0,7 260

3.3. Pelaksanaan Beton

Secara umum, pelaksanaan beton melibatkan beberapa tahapan pekerjaan, antara lain:

3.3.1. Penakaran Material

  • Semua bahan beton, seperti air, semen, agregat kasar, dan agregat halus, harus ditakar atau diukur dengan menggunakan metode penimbangan, terutama untuk beton dengan mutu > fc' 20 MPa.
  • Perbandingan takaran atau komposisi bahan beton sangat penting dalam menentukan mutu beton yang akan dihasilkan.

3.3.2. Pelaksanaan Pencampuran

  • Agregat harus ditakar berdasarkan berat untuk beton dengan mutu > fc' 20 MPa.
  • Kuantitas takaran harus kurang dari kapasitas alat pencampur.
  • Agregat harus dalam kondisi SSD (Surface Saturated Dry) saat dilakukan penakaran.
  • Peralatan harus dikalibrasi sebelum digunakan.

3.3.3. Pencampuran

  • Mesin yang digunakan harus bersifat mekanis untuk memastikan distribusi beton yang merata.
  • Alat pencampur dilengkapi dengan tanki air dan alat ukur yang akurat.
  • Cara pencampuran dilakukan dengan cara berikut: pertama, masukkan sebagian air, agregat kasar, dan agregat halus hingga mencapai kelembaban yang cukup basah secara merata, kemudian tambahkan semen, dan akhirnya masukkan sisa air untuk menyempurnakan campuran.
  • Waktu pencampuran dihitung sejak sisa air dimasukkan. Untuk kapasitas kurang dari ¾ m3, waktu pencampuran sekitar 1,5 menit, dan untuk mesin yang lebih besar, waktu pencampuran ditambahkan 15 detik untuk setiap penambahan 0,5 m3.

3.3.4. Acuan

  • Acuan tanah harus dipastikan dalam kondisi stabil dan tanpa tanah yang longsor.
  • Acuan kayu atau baja harus memastikan tidak ada kebocoran dan sambungan yang kaku agar posisinya tetap saat proses pengecoran, pemadatan, dan perawatan.
  • Acuan kayu yang permukaannya tidak diserut dapat digunakan untuk bagian yang tidak terlihat.
  • Acuan harus dapat dibongkar tanpa merusak permukaan struktur, sehingga perlu diberi lapisan pelumas (oil form).
  • Sudut-sudut acuan harus dibulatkan atau tidak memiliki sudut yang tajam.
  • Acuan harus dirancang agar dapat dibongkar dengan mudah tanpa merusak beton.

3.3.5. Pengecoran

  • Penyedia jasa harus memberitahu Direksi pekerjaan minimal 24 jam sebelum pekerjaan dimulai. Informasi yang perlu disampaikan meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton, dan tanggal serta waktu pencampuran dimulai, atau jika terjadi penundaan pengecoran lebih dari 6 jam.
  • Penyedia jasa tidak boleh memulai pekerjaan sebelum mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan.
  • Pengecoran tidak boleh dilaksanakan jika Direksi pekerjaan atau wakilnya tidak hadir, meskipun telah ada persetujuan pengecoran.
  • Acuan harus diolesi dengan minyak atau oil form sebelum pengecoran dimulai.
  • Beton yang dicor tidak boleh berumur lebih dari 1 jam setelah pencampuran. Jika terjadi keterlambatan, campuran beton harus ditambahkan retarder.
  • Pengecoran harus dilakukan secara berkesinambungan hingga mencapai lokasi sambungan yang ditentukan.
  • Pengecoran harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari segregasi.
  • Pada bagian yang rumit dan memiliki tulangan rapat, beton harus dicor dalam lapisan tidak lebih dari 15 cm. Namun, untuk dinding yang tinggi, lapisan dapat mencapai 30 cm.
  • Tinggi jatuh beton ke dalam cetakan tidak boleh melebihi 150 cm.
  • Kecepatan pengecoran harus diatur sedemikian rupa sehingga beton tetap dalam kondisi plastis.
  • Beton lama yang akan disambung dengan beton baru harus dikasarkan, dibersihkan, dan dilapisi dengan bahan pengikat (bonding agent).
  • Perawatan beton harus dimulai segera setelah pengerasan akhir (final setting) terjadi.
  • Jika menggunakan ready mix, perhatikan kapasitas, daya pemompaan, dan kelancaran beton.

3.3.6. Pemadatan

  • Pemadatan beton harus menggunakan alat penggetar yang bersifat mekanis.
  • Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu tempat ke tempat lain.
  • Pemadatan pada daerah antar tulangan harus dilakukan dengan hati-hati agar tulangan tidak bergeser.
  • Waktu penggetaran harus dibatasi untuk menghindari terjadinya segregasi.
  • Kecepatan putaran minimum alat penggetar harus mencapai 5000/menit dengan berat efektif 0,25 kg.
  • Jarak antar alat penggetar sebesar 45 cm, dan waktu penggetaran maksimum 15 detik atau sampai permukaan beton mengkilap.
  • Alat penggetar harus diletakkan secara vertikal hingga dapat menembus beton hingga kedalaman 10 cm dari dasar beton.
  • Pemadatan harus selesai sebelum terjadi pengerasan awal (initial setting).

Tabel 2 - Jumlah Minimum Alat Penggetar Mekanis Dari Dalam

Kecepatan Pengecoran Beton (m3/jam) Jumlah Alat
4 2
8 3
12 4
16 5
20 6
>20 >6

3.4. Pengendalian Mutu

3.4.1. Penerimaan Bahan

Sebelum digunakan, dilakukan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam bukti-bukti tertulis.

3.4.2. Pengawasan

Diperlukan personil dengan keahlian khusus untuk melakukan pengawasan.

3.4.3. Perencanaan Campuran

  • Ketentuan sifat-sifat campuran harus dipatuhi.
  • Jika campuran tidak memenuhi persyaratan "slump" yang diusulkan, maka campuran tersebut tidak boleh digunakan, kecuali untuk penggunaan terbatas.
  • Jika campuran uji beton pada usia 7 hari tidak memenuhi persyaratan, beton tersebut tidak boleh digunakan sebagai campuran pekerjaan utama, dan perlu dicari penyebabnya.

3.4.3.1. Ketentuan Sifat-sifat Campuran

  • Campuran harus sesuai dengan proporsi takaran campuran pada job mix.
  • Campuran yang tidak memenuhi persyaratan "slump" yang diusulkan tidak boleh digunakan, kecuali untuk penggunaan terbatas.
  • Jika pengujian beton campuran uji pada usia 7 hari tidak memenuhi persyaratan, beton tersebut tidak boleh digunakan sebagai campuran utama, dan perlu dicari penyebabnya.

3.4.3.2. Penyesuaian Campuran

  • Penyesuaian mudah dikerjakan (kelecakan atau workability).
  • Kadar semen tidak boleh berubah.
  • Rasio air/semen tidak boleh dinaikkan.
  • Tidak boleh ada pengadukan ulang.
  • Penggunaan bahan tambahan (additif) harus mendapatkan izin dari Direksi Pekerjaan.
  • Penyesuaian kekuatan:
  • Penambahan kadar semen harus sesuai dengan persyaratan dan tidak boleh melebihi batas yang ditentukan.
  • Bahan tambahan (additif) boleh digunakan untuk penyesuaian kekuatan.
  • Penyesuaian untuk bahan-bahan baru:
  • Tidak diperbolehkan tanpa pemberitahuan tertulis terlebih dahulu kepada Direksi Pekerjaan.
  • Pengujian campuran akan dilakukan ulang dengan menggunakan bahan baru tersebut.

3.4.4. Pengujian di Lapangan

Pengujian untuk kelecakan (workability) dilakukan dengan menggunakan nilai slump untuk setiap pencampuran beton.

3.4.4.1. Pengujian Kuat Tekan

  • Setiap harinya, dari setiap jenis mutu beton yang dipasok sebanyak 10 m3, harus dilakukan 1 set (3 buah) pengujian kuat tekan pada usia 28 hari.
  • Pengujian dilakukan dengan menggunakan sepasang benda uji silinder berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm.
  • Beton dinyatakan memenuhi persyaratan jika rata-rata nilai kuat tekan dari benda uji lebih besar dari (fc' + k.S.r), dengan S = nilai deviasi, dan tidak ada satu pun benda uji yang memiliki nilai kuat tekan kurang dari 0,85 fc'. Nilai k = 1,64, dan r = faktor koreksi untuk jumlah benda uji kurang dari 30 buah.
  • Pengambilan benda uji yang mewakili dilakukan dengan menggunakan metode statistik yang sesuai dengan standar deviasi.
  • Nilai fc' = fcm - (k.S).r, dengan nilai k = 1,64 untuk jumlah benda uji sebanyak 30 buah.
  • Pada setiap set (3 buah) benda uji per 10 m3 dari setiap jenis struktur, 2 buah benda uji diuji. Jika terdapat perbedaan lebih dari 5% antara kedua benda uji tersebut, maka benda uji ketiga diuji, dan untuk perhitungan S, digunakan 2 buah benda uji dengan nilai yang paling dekat.
  • Tidak boleh ada satu pun benda uji yang memiliki nilai kuat tekan kurang dari 0,85 fc'.

3.4.4.3. Faktor Pengali untuk Jumlah Benda Uji 30

Jumlah benda uji yang harus diuji adalah 30 benda uji. Jika jumlahnya kurang dari 30, maka deviasi harus disesuaikan dengan faktor pengali sebagai berikut:


di mana:
  • fc' = Kuat tekan beton karakteristik
  • fci = Kuat tekan beton yang diuji
  • fcm = Kuat tekan beton rata-rata
  • n = Jumlah benda uji.
Rumus
Berikut adalah rumus yang sesuai dengan persyaratan untuk menghitung nilai S, yang merupakan standar deviasi:

S = √[(1/n) * Σ(f_i - f_bar)^2]

di mana:
  • S adalah standar deviasi
  • n adalah jumlah benda uji
  • f_i adalah nilai kuat tekan beton dari setiap benda uji
  • f_bar adalah rata-rata dari nilai kuat tekan beton dari semua benda uji
  • Σ adalah simbol penjumlahan, yang berarti harus menjumlahkan semua nilai (f_i - f_bar)^2 dari i = 1 hingga n
  • Dengan menggunakan rumus di atas, Anda dapat menghitung nilai standar deviasi (S) berdasarkan kuat tekan beton dari setiap benda uji.

Contoh Perhitungan
Mari kita lihat contoh perhitungan standar deviasi menggunakan rumus yang telah disebutkan sebelumnya. Misalkan kita memiliki 5 benda uji dengan kuat tekan beton sebagai berikut:
  • f1 = 28 MPa
  • f2 = 30 MPa
  • f3 = 29 MPa
  • f4 = 31 MPa
  • f5 = 27 MPa

Langkah pertama adalah menghitung rata-rata (f_bar) dari nilai kuat tekan beton:
  • f_bar = (f1 + f2 + f3 + f4 + f5) / 5
  • = (28 + 30 + 29 + 31 + 27) / 5
  • = 145 / 5
  • = 29 MPa

Selanjutnya, kita hitung selisih kuat tekan beton dari rata-rata dan kuadratkan selisih tersebut:
  • (f1 - f_bar)^2 = (28 - 29)^2 = 1
  • (f2 - f_bar)^2 = (30 - 29)^2 = 1
  • (f3 - f_bar)^2 = (29 - 29)^2 = 0
  • (f4 - f_bar)^2 = (31 - 29)^2 = 4
  • (f5 - f_bar)^2 = (27 - 29)^2 = 4

Kemudian, kita menjumlahkan semua nilai (f_i - f_bar)^2:

Σ(f_i - f_bar)^2 = 1 + 1 + 0 + 4 + 4 = 10

Berikutnya, kita bagi jumlah tersebut dengan jumlah benda uji (n = 5) dan akar kuadratkan hasilnya:
  • S = √[(1/5) * Σ(f_i - f_bar)^2]
  • = √[(1/5) * 10]
  • = √(2)
  • = 1.414

Dengan demikian, nilai standar deviasi (S) dari contoh ini adalah sekitar 1.414 MPa.

Tabel Error! No text of specified style in document.3 - Angka koreksi deviasi “r”

Jumlah benda uji Faktor koreksi “r” Jumlah benda uji Faktor koreksi “r” Jumlah benda uji Faktor koreksi “r”
10 1,36 17 1,14 24 1,05
11 1,31 18 1,12 25 1,04
12 1,27 19 1,11 26 1,03
13 1,24 20 1,09 27 1,02
14 1,21 21 1,08 28 1,02
15 1,18 22 1,07 29 1,01
16 1,16 23 1,06 > 30 1

Untuk jumlah benda uji kurang dari 10 atau ketika data pengujian tidak tersedia, diperlukan koreksi dengan menambahkan nilai kekuatan minimal sesuai dengan Tabel 4.

Tabel 4 Penyesuaian Kuat Tekan

Kuat tekan karakteristik fc’ (MPa) Nilai kekuatan lebih minimal (MPa)
< 21 7
21 ≤ fc’ ≤ 35 8,5
> 35 10

  • Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, langkah-langkah perbaikan kuat tekan beton harus diambil. Jika terjadi nilai kuat tekan yang sangat rendah, langkah core drill harus dilakukan di daerah yang diragukan dengan jumlah 3 buah.
  • Jika hasil dari 3 core drill tersebut menunjukkan rata-rata nilai yang lebih besar dari 0,85 fc dan tidak ada nilai yang kurang dari 0,75 fc, maka secara struktural beton dianggap baik.
  • Pengujian tambahan seperti penggunaan alat impact echo, ultrasonic pulse velocity (UPV), core drill, dan lainnya dapat dilakukan apabila diperlukan.

3.5. Cara Pengukuran dan Pembayaran

  • Pengukuran beton dilakukan dalam meter kubik tanpa mengurangi volume untuk pipa dengan diameter < 20 cm yang digunakan untuk water stop, selongsong pipa, lubang sulingan.
  • Tidak ada penambahan biaya untuk cetakan, perancah balok, pemompaan, penyelesaian akhir, penyediaan pipa sulingan, dan pekerjaan pelengkap lainnya, karena semua itu sudah termasuk dalam harga satuan beton.
  • Beton yang diukur dan dibayar dalam bagian ini adalah beton dengan mutu lebih tinggi dari K-250 (fc’=20 MPa) untuk beton bertulang, dan beton dengan mutu kurang dari K-175 (fc’=15 MPa) untuk beton tak bertulang.
  • Tidak ada pengukuran tambahan untuk pembayaran perbaikan beton.

4. Beton Prategang

4.1. Umum

  • Fabrikasi struktur beton prategang pracetak.
  • Bagian beton prategang pracetak dari struktur komposit.
  • Tiang pancang pracetak.
  • Mencakup pembuatan, pengangkutan, dan penyimpanan balok, tiang pancang, pelat, dan elemen struktur dari beton pracetak, yang dibuat dengan cara pretension (penegangan sebelum pengecoran) maupun post-tension (penegangan setelah pengecoran).

4.2. Persyaratan

  • Standar rujukan: SNI, AASHTO, ASTM.
  • Pekerjaan bagian lain yang berkaitan: beton, baja tulangan.
  • Toleransi.
  • Persyaratan bahan.
  • Persyaratan kerja.

4.2.1. Toleransi untuk Gelagar dan Lantai

  • Dimensi: -0,06% arah memanjang.
  • Bentuk:
    • Lebar < 6m = 3mm; > 6 m = 5 mm; tinggi total 5 mm.
    • Rongga: vertikal = 10 mm; melintang = 5 mm.
  • Ketidaksikuan: < 4 m = 5 mm; > 4 m = 15 mm.
  • Lendutan: 20 mm.
  • Kelengkungan: 0,06% dari panjang.
  • Puntir: 5 mm/meter.
  • Kabel: lubang kabel 2 mm dan selimut kabel 5 mm.

Untuk tiang pancang, toleransi dimensi:
  • Dimensi penampang: ± 6 mm.
  • Panjang total: ± 25 mm.
  • Penyimpangan dari garis lurus: 1 mm per meter panjang.
  • Ketidaksikuan pangkal: 2 mm dalam lebar.
  • Selimut tulangan (termasuk kabel): +5 mm, -3 mm.
  • Lubang keluar kabel dalam acuan dan pelat: ± 2 mm.
  • Kabel pada umumnya: ± 1,5 mm.
  • Sepatu tiang dan penghubung sambungan pra fabrikasi: panjang cetakan sesuai dengan panjang tiang.

4.2.2. Persyaratan Bahan

Beton:
  • Sesuai dengan bagian 7.1.
  • Acuan:
    • Harus cukup kuat, tidak melendut, kedap air.
    • Pada sambungan harus dipasang seal agar tidak bocor.
    • Ujung acuan ditumpulkan.
    • Pembentukan rongga harus sedemikian untuk mencegah masuknya adukan pasta semen.
    • Acuan dipasang setelah tulangan terpasang.
    • Toleransi sesuai dengan ketentuan.
    • Acuan harus bersih sebelum pengecoran beton.

Grouting:
  • Rasio air semen maksimum 0,45.
  • Boleh menggunakan bahan tambah untuk peningkatan kinerja.
  • Sebelum grouting, baja prategang harus tersisa 3 cm dari tepi luar baji, angkur.
  • Selongsong harus bersih dan kering.
  • Campuran grouting dicor secara menerus sampai penuh.
  • Bekas acuan angkur, setelah selesai grouting, harus ditutup dengan adukan dengan tebal selimut minimum 3 cm.
  • Setelah pelaksanaan grouting, tidak boleh terjadi deformasi tambahan pada struktur selama 3 hari setelah selesainya pekerjaan grouting.

Baja tulangan:
  • Sesuai dengan bagian 7.3.

Besi Tulangan:
  • Strand terdiri dari 7 wire dengan kuat leleh minimum 160 kg/mm2 dan kekuatan batas minimum 190 kg/mm2.
  • Wire tidak boleh disambung.
  • Kuat tarik tinggi harus bebas tegangan yang diregangkan secara dingin sebesar 91 kg/mm2.
  • Sifat fisik setelah peregangan dingin:
    • Kekuatan batas tarik minimum 100 kg/mm2.
    • Kekuatan leleh minimum 910 kg/mm2.
    • Modulus elastisitas minimum 25 * 106 kg/cm2.
    • Elongation minimum rata-rata terhadap 20 batang 4%.
    • Toleransi diameter +0,76 mm dan -0,25 mm.

Baja Prategang:
  • Pemasokan:
    • Dipasok dalam gulungan.
    • Gulungan untuk wire diameter 1,5 m.
    • Gulungan untuk strand diameter 0,75 m.
    • Stress bar dalam bentuk ikatan.
    • Kondisi baik, tidak tertekuk atau bengkok, bersih dari karat dan bahan lepas, minyak, gemuk, cat, atau lumpur.
  • Pemberian tanda:
    • Disimpan dalam kelompok menurut ukuran dan panjangnya, diikat, diberi label.
    • Label berisi informasi spesifikasi teknis, nomor sertifikat sesuai hasil pengujian.
    • Penyimpanan:
    • Disimpan di bawah atap dan tidak langsung terkena tanah.
    • Stress bar diberi ganjal.
    • Identitas pada wire, strand, dan stress bar harus tetap ada selama penyimpanan.
  • Pengangkuran:
    • Kekuatan angkur minimal 95% dari kuat tarik minimum baja prategang.
    • Dapat memberikan penyebaran tegangan yang merata.
    • Alat pengangkuran sesuai dengan cara penegangan.
    • Angkur dilengkapi dengan selongsong atau penghubung lain yang cocok dalam pelaksanaan grouting.

Selongsong:
  • Untuk sistem post-tension, digunakan selongsong bergelombang.
  • Ujung selongsong harus sedemikian rupa sehingga bagian ujung kabel bebas bergerak.
  • Selongsong bebas dari retak, belah.
  • Mempunyai lubang udara.
  • Kuat menahan tekanan sebesar 4 bar.
  • Untuk sistem eksternal stressing, kabel dilindungi dengan HDPT, tahan korosi, dan stabil.

Pekerjaan lain-lain:
  • Aliran pembilas selongsong harus mengandung kapur sirih (kalsium oksida) atau kapur tohor (kalsium hidro-oksida) sebanyak 12 gram/liter.

4.2.3. Persyaratan Kerja

Sistem Prategang:
  • Sesuai dengan rancangan yang dipilih oleh penyedia jasa (hasil detail design).
  • Pasca tarik atau pra tarik.
  • Gaya prategang efektif sesuai dengan hasil rancangan

Kesiapan kerja:
  • Rincian sistem, peralatan, dan bahan.
  • Meliputi metode dan urutan penegangan, rincian lengkap untuk baja prategang, perkakas penjangkaran, jenis selongsong, dan setiap data relatif lainnya untuk operasi prategang.
  • Rincian tersebut harus menunjukkan setiap susunan dari baja tulangan yang bukan prategang seperti yang ditunjukkan dalam gambar.

4.3. Pelaksanaan

Pelaksanaan beton prategang mencakup:
  • Unit beton prategang
  • Pelaksanaan unit prategang sistem pratarik
  • Pelaksanaan unit prategang sistem pasca tarik
  • Penanganan, pengangkutan, dan penyimpanan unit beton pracetak
  • Pelaksanaan unit beton pracetak segmental
  • Pemasangan unit beton prategang

4.3.1. Unit Beton Prategang

Secara umum, hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah:
  • Tempat pencetakan
  • Acuan
  • Perlengkapan prategang
  • Perakitan kabel prategang
  • Selimut beton
  • Pengecoran beton
  • Perawatan
  • Penegangan kabel
  • Keselamatan kerja
  • Peralatan
  • Data yang harus dicatat
  • Kabel untuk sistem pratarik
  • Kabel untuk sistem pasca tarik

4.3.2. Pelaksanaan Unit Prategang Sistem Pratarik

Pelaksanaan unit beton prategang sistem pratarik memiliki kekhususan, dan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah:
  • Landasan gaya prategang
  • Penempatan kabel
  • Dongkrak hidrolik
  • Alat potong baja prategang
  • Bripak
  • Besarnya gaya penegangan yang dikehendaki
  • Prosedur penegangan
  • Pemindahan daya prategang
  • Persetujuan
  • Ketentuan kekuatan beton
  • Prosedur
  • Masuknya kabel yang diizinkan

4.3.3. Pelaksanaan Unit Prategang Sistem Pasca Tarik

  • Persetujuan
  • Landasan unit prategang
  • Penempatan angkur
  • Penempatan kabel
  • Kekuatan beton yang diperlukan
  • Besarnya gaya prategang yang diperlukan
  • Prosedur penarikan kabel
  • Umum
  • Penarikan kabel dengan 2 dongkrak
  • Penegangan dengan 1 dongkrak
  • Lubang grouting
  • Grouting dan penyelesaian akhir setelah pemberian gaya prategang

4.3.4. Penanganan, Pengangkutan, dan Penyimpanan Unit Beton Pracetak

  • Pemberian tanda pada unit-unit beton pracetak
  • Untuk identifikasi unit
  • Pada tiang pancang diberi tanda dimensi dan panjang
  • Penanganan dan pengangkutan
  • Pengangkutan dalam posisi tegak
  • Unit yang rusak akibat penanganan harus diganti
  • Cara pengangkutan dan penanganan harus disetujui oleh Direksi
  • Penyimpanan
  • Dipasang penyangga dengan jarak maksimum 20% ukuran panjang unit
  • Baja prategang

4.3.4. Pelaksanaan Unit Beton Pracetak Segmental

  • Unit beton yang difabrikasi
  • Perakitan segmen pracetak
  • Persetujuan perakitan 4 minggu sebelum tanggal dimulai perakitan segmen
  • Penyangga segmen harus kuat
  • Sambungan beton
  • Harus mempunyai kekuatan minimal yang sama dengan mutu beton
  • Bentuk pada sambungan harus baik
  • Pengecoran ceruk angkur
  • Sesuai dengan gambar rencana
  • Kerusakan unit
  • Kerusakan seperti retak, mengelupas, atau deformasi harus disisihkan untuk diperiksa lebih lanjut

4.3.5. Pemasangan Unit Beton Prategang

  • Tumpuan untuk unit yang diletakkan di atas bantalan karet
  • Harus terletak pada posisi as bantalan karet
  • Hubungan antara bantalan karet dengan unit beton prategang harus terpasang penuh
  • Pengaturan posisi unit
  • Menjamin kestabilan gelagar pada saat berdiri sendiri dan saat pengaturan, serta membuat perkuatan

4.4. Pengendalian Mutu

Dalam pengendalian mutu, data pengujian harus lengkap, serta data penerimaan bahan sesuai dengan persyaratan yang dibuktikan secara tertulis dan ditandatangani oleh pihak yang menyerahkan dan yang menerima. Pengawasan dalam pengendalian mutu ini sangat penting, sehingga diperlukan ahli dalam bidang sistem penegangan kabel prategang, dan dilengkapi dengan benda uji, rakitan angkur, serta penerimaan unit-unit sebelumnya dengan lengkap.

4.5. Pengukuran dan Pembayaran

Pengukuran:
  • Unit beton pracetak
  • Jumlah aktual unit yang disediakan
  • Pekerjaan cor langsung di lapangan dengan sistem pasca tarik
  • Sesuai dengan bagian 7.1. dan 7.3
  • Unit yang ditolak tidak diukur

Dasar pembayaran:
  • Unit beton pracetak yang disediakan
  • Material yang ada di lokasi
  • Beton cor di tempat dengan sistem pasca tarik
  • Sesuai dengan bagian 7.1. dan 7.3.

5. Baja Tulangan

5.1. Umum

Mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai dengan spesifikasi serta penerbitan detail pelaksanaan. Detail pelaksanaan baja tulangan yang tidak termasuk dalam dokumen kontrak pada saat pelelangan akan diterbitkan oleh Direksi pekerjaan setelah peninjauan lapangan.

5.2. Persyaratan

Standar rujukan:
  • SNI, AASHTO, ACI, AWS

Pekerjaan bagian lain yang berkaitan:
  • Ketentuan teknis dan beton

Toleransi:
  • Sesuai ACI 315
  • Mempunyai selimut beton:
    • 3,5 cm untuk beton yang tidak terekspos
    • 7,5 cm untuk beton yang terendam/tertanam

Persyaratan bahan
Persyaratan kerja

5.2.1. Persyaratan Bahan

Baja tulangan:
  • BJ 24 – baja lunak – fs’ = 2400 kg/cm²
  • BJ 32 – baja sedang – fs’ = 3200 kg/cm²
  • BJ 39 – baja keras – fs’ = 3900 kg/cm²
  • BJ 48 – baja keras – fs’ = 4800 kg/cm²

Tumpuan untuk tulangan:
  • Mutu beton untuk tumpuan > fc’ 20 Mpa

Pengikat untuk tulangan:
  • Kawat pengikat dari baja lunak

5.2.2. Persyaratan Kerja

Perlindungan terhadap korosi struktur beton:
  • Campuran beton dapat ditambahkan bahan tambahan untuk mencegah korosi
  • Selimut beton:
    • Beton cor di atas tanah – 70 mm
    • Beton yang berhubungan dengan tanah:
      • D 19 s/d D 56 → 50 mm
      • < D 16 → 40 mm
    • Beton yang tidak langsung berhubungan dengan tanah:
      • Pelat, dinding dengan D 44 – 56 → 40 mm
      • < D 36 → 25 mm
      • Balok, kolom → tulangan utama → 40 mm
      • Struktur cangkang, pelat > D 19 → 25 mm dan < D16 → 20 mm

5.2.3. Pengajuan Kesiapan Kerja

  • Siapkan semua jenis ukuran baja tulangan sesuai dengan gambar rencana.
  • Siapkan semua diagram tulangan beserta pembengkokan.
  • Siapkan data baja tulangan (dimensi dan berat).
  • Apabila ada penggantian dimensi, laporkan pada pengawas.
  • Siapkan fasilitas pemotongan dan pembengkokan.
  • Baja tulangan dalam bundel diberi tanda.
  • Siapkan pengujian baja tulangan yang digunakan.

5.3. Pelaksanaan

5.3.1. Penyimpanan dan Penanganan

  • Tulangan diberi label untuk identifikasi yang menunjukkan ukuran batang, panjang, dan informasi lainnya.
  • Ditangani dan disimpan untuk mencegah distorsi, kontaminasi, korosi, atau kerusakan.

5.3.2. Pembengkokan

  • Dibengkokkan dengan cara dingin sesuai ACI 315.
  • Diameter > 20 mm dibengkokkan dengan mesin pembengkok.

5.3.3. Penempatan dan Pengikatan

  • Baja tulangan harus bersih dan ditempatkan dengan selimut beton sesuai ketentuan.
  • Diikat kuat pada posisinya, panjang penyalurian 40 diameter.
  • Tidak boleh dilas kecuali atas persetujuan Direksi pekerjaan.
  • Simpul kawat membelakangi permukaan beton.
  • Baja tulangan yang terekspos cukup lama harus dilindungi.

5.3.4. Pelaksanaan

  • Mutu, dimensi, dan bentuk sesuai dengan gambar rencana.
  • Toleransi:
    • Tidak boleh dilakukan pembengkokan ulang.
    • Apabila akan dilakukan pengelasan, usulkan pada Direksi.
  • Pastikan perancah dan acuan sudah disetujui oleh Direksi.
  • Material bersih.
  • Overlap sesuai dimensi.
  • Tidak bergeser.
  • Selimut beton sesuai.

5.4. Pengukuran dan Pembayaran

5.4.1. Pengukuran

  • Diukur dalam kilogram sesuai dengan diameter terpasang.
  • Penjepit, pengikat, atau bahan lain tidak diukur untuk pembayaran.
  • Baja tulangan untuk gorong-gorong pipa beton dibayar secara terpisah pada divisi 2.

5.4.2. Pembayaran

Kompensasi penuh terhadap pemasokan, pembuatan, pemasangan termasuk pekerja, perkakas, pengujian, dan pelengkap lainnya.

6. Baja Struktur

6.1. Umum

  • Mencakup pekerjaan struktur baja komposit.
  • Pelaksanaan struktur baja baru, pelebaran, dan perbaikan struktur.
  • Penyediaan, fabrikasi, pemasangan, galvanisasi, dan pengecatan.
  • Baja termasuk baut sambung, paku keling, pengelasan, dan sebagainya.

6.2. Persyaratan

  • Standar rujukan: SNI, AASHTO, ASTM, AWS.
  • Pekerjaan bagian lain yang berkaitan: beton, baja tulangan, siar muai, landasan.
  • Toleransi.
  • Persyaratan bahan.
  • Persyaratan kerja.

6.2.1. Toleransi

Diameter lubang:
  • Lubang pada elemen utama: +1,2 mm dan -0,4 mm.
  • Lubang pada elemen sekunder: +1,8 mm dan -0,4 mm.

Alinyemen lubang:
  • Elemen utama (di bengkel): ±0,4 mm.
  • Elemen sekunder di lapangan: ±0,6 mm.

Gelagar:
  • Camber: 0,2 mm per meter panjang balok atau 6 mm.
  • Penyimpangan lateral as ke as landasan: 0,1 mm.
  • Penyimpangan lateral web dan as flens maksimal 3 mm.

Batang sambungan geser:
  • Penyimpangan maksimum terhadap garis lurus terhadap flens ke segala arah: panjang/1000 atau 3 mm.
  • Permukaan yang dikerjakan dengan mesin.
  • Penyimpangan bidang kontak 0,25 mm.

6.2.2. Persyaratan Bahan

Penyimpanan:
  • Harus dilindungi dari korosi dan bersih.

Baja struktur:
  • Sesuai dengan desain mutunya.

Baut, mur, dan ring:
  • Sesuai ASTM A 307, grade A.
  • Menggunakan baja mutu tinggi.
  • Komposisi kimia sesuai ketentuan.

Paku penghubung geser yang dilas:
  • Sesuai ketentuan.

Bahan untuk pengelasan:
  • Sertifikat.

Lapisan pelindung:
  • Cat.
  • Periksa persyaratan gambar rencana.
  • Periksa jenis cat yang digunakan serta ketebalannya.
  • Digunakan untuk struktur jembatan pada daerah yang bebas polusi.

Galvanis:
  • Periksa ketebalan galvanis yang disyaratkan.

6.3. Pelaksanaan

Pelaksanaan baja struktur pada umumnya melibatkan fabrikasi yang akan melaksanakan pekerjaan pemotongan profil, pelubangan untuk baut, dan lain sebagainya.

Jenis pelubangan baut yang digunakan adalah:
  • Baut tidak terbenam.
  • Baut pas dan silinder.
  • Baut geser mutu tinggi.

Pekerjaan fabrikasi juga mencakup pekerjaan pembuatan pengaku, sambungan dengan baut standar atau baut geser mutu tinggi. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah:

  • Penyelesaian permukaan bidang kontak.
  • Baut tarik.
  • Pengelasan.
  • Pengecatan dan galvanisasi.
  • Pengangkutan.
  • Pemasangan jembatan baja.
  • Tahap pekerjaan.
  • Pengaturan lalu lintas.
  • Peralatan dan perancah.

Perakitan pekerjaan baja seringkali melibatkan pengguna jasa dalam hal penyediaan baja struktur yang telah tersedia. Sehingga dalam pelaksanaan pengadaan bahan perlu diperjelas terlebih dahulu pada saat tender, apakah pengadaan dilaksanakan oleh penyedia jasa atau pemilik, karena hal tersebut akan sangat berpengaruh pada penawaran harga.

Jenis perakitan yang harus dilaksanakan oleh penyedia jasa tergantung pada kondisi lokasi di mana jembatan akan dipasang, dan seharusnya dalam tahap perencanaan atau dalam gambar rencana hal tersebut sudah dijelaskan. Jenis perakitan struktur rangka baja pada umumnya adalah:

  • Peluncuran.
  • Kantilever.
  • Perancah.

Bagi komponen baja struktur yang disediakan oleh pemilik, maka penyedia jasa perlu melakukan pengangkutan dan pengiriman yang tidak terlepas dari masalah keamanan, yaitu dengan melibatkan asuransi all risk.

6.3.1. Fabrikasi

Dalam hal fabrikasi, perlu diperhatikan beberapa hal yang mencakup jaminan mutu baik bahan maupun ketepatan pemasangan, dan pembeli dapat melakukan peninjauan ke pabrik pembuat.
  • Kesiapan material dan alat.
  • Pemotongan sesuai dimensi, perlu diperhatikan keakuratan ukuran.
  • Lubang baut, perhatikan dimensi lubang dan jarak harus sesuai dengan gambar dan toleransi yang diizinkan.
  • Pengelasan profil, perlu diperhatikan tebal las, panjang las, serta bahan las yang digunakan.
  • Perlu dilakukan percobaan perakitan untuk pembuatan struktur jembatan baja secara utuh, sebelum dikirim ke lokasi.

6.3.2. Baut Geser Mutu Tinggi

  • Sudut kemiringan permukaan bidang kontak dengan kepala baut dan mur <1:20 terhadap bidang tegak lurus sumbu baut.
  • Alat pengencang (torsi momen) harus dikalibrasi sebelum digunakan.
  • Kekencangan alat pengencang disesuaikan dengan dimensi baut (diameter baut) dan mutunya.
  • Dengan sistem baut geser mutu tinggi ini, masalah kebersihan permukaan pelat sangat penting sekali, agar fungsi geser baut dapat terlaksana.

6.3.3. Pengangkutan & Perakitan

Pengangkutan:
  • Pastikan semua elemen memiliki kode.
  • Pastikan jumlah komponen sudah sesuai dengan gambar.
  • Pastikan cara pengangkutan.

Perakitan:
  • Pastikan manual perakitan.
  • Pastikan jumlah komponen sesuai.
  • Pastikan jumlah baut sesuai.

Penyelesaian rangka baja:
  • Pastikan sistem pemasangan - perancah atau kantilever.
  • Pastikan camber setelah semua komponen terpasang - sesuai dengan manual?
  • Pastikan semua sambungan telah dikencangkan dengan kekencangan 100%.
  • Pastikan tulangan untuk lantai tersedia.
  • Pastikan mutu beton terpasang harus K-350.
  • Pastikan jenis expansion joint sesuai.
  • Pastikan jenis lapisan permukaan menggunakan sesuai spesifikasi.

6.4. Pengendalian Mutu

6.4.1. Penerimaan bahan

  • Pengendalian mutu.
  • Penanganan dan penyimpanan.
  • Perbaikan terhadap komponen jembatan yang tidak memenuhi ketentuan.
  • Penggantian komponen yang hilang atau rusak berat.
  • Perbaikan komponen yang agak rusak.
  • Pelurusan bahan yang agak bengkok.
  • Perbaikan hasil pengelasan yang retak.
  • Perbaikan lapisan permukaan yang rusak.

6.4.2. Pemeliharaan komponen jembatan yang telah diterima

Penyedia jasa wajib melaksanakan pemeliharaan dan perlindungan terhadap semua komponen yang telah diterima di lapangan dan menjamin bahwa semua komponen baja struktur aman dan terlindung, sehingga terjamin permasalahan perakitan.

6.4.3. Pengendalian mutu pelaksanaan struktur baja

  • Pekerjaan sipil.
  • Penentuan titik pengukuran dan pekerjaan sementara.
  • Pemasangan landasan.
  • Perakitan komponen baja.
  • Prosedur pemasangan.
  • Sambungan baut.
  • Cek kekuatan baut.
    • Cek dimensi baut.
    • Cek kuat tarik baut.
    • Ring (washer).
    • Jenis washer, kekuatannya serta dimensi.
    • Ulir.
    • Panjang ulir dibandingkan dengan ukuran pelat yang akan disambung.
    • Kekencangan.
    • Sesuaikan dengan jenis, mutu, serta dimensi baut.

6.5. Pengukuran dan Pembayaran

Pengukuran:
  • Cara pengukuran berdasarkan jumlah kilogram pekerjaan yang diterima dengan berat volume 7.850 kg/m3.
  • Berat bahan yang dihitung adalah berat nominal seluruh pekerjaan baja.
  • Pengecatan, pelindung lainnya tidak dibayar.
  • Pengukuran material yang disediakan oleh pemilik.
  • Pemasangan berdasarkan berat total rangka baja yang akan dipasang. Rangka pemberat, pembantu tidak dimasukkan dalam berat volume yang dipasang.
  • Pengangkutan dan pengiriman berdasarkan berat total yang diangkut, termasuk rangka pembantu yang harus dikembalikan ke depot peralatan yang disyaratkan.
  • Pemasokan komponen pengganti.
  • Perbaikan komponen yang rusak.
  • Lantai kayu jembatan.

Pembayaran:
  • Berdasarkan pekerjaan yang diterima dalam kilogram.
  • Pengadaan dan pemasangan dibayar secara terpisah.

<a href="https://www.mscengineeringgre.com/"><img src="Pengujian Lapangan dalam Spesifikasi Jembatan.png" alt="Pengujian Lapangan dalam Spesifikasi Jembatan"></a>

7. Kayu

7.1. Umum

  • Bahan kayu yang digunakan untuk lantai kayu jembatan atau struktur jembatan kayu.
  • Mencakup pengadaan, penyimpanan, perlindungan, dan pemasangan sesuai dengan gambar rencana.
  • Mencakup pekerjaan persiapan yaitu pembongkaran struktur lama.

7.2. Persyaratan

  • Jenis kayu yang digunakan adalah jenis kelas.
  • Toleransi:
    • Paku yang digunakan memiliki diameter 2,75 mm – 8 mm, panjang 40 mm – 200 mm.
    • Pelat baja telah digalvanis dengan ketebalan 0,9 mm – 2,5 mm.
    • Baut dengan kepala segi 4 atau segi 8, diameter antara 12 mm – 30 mm, toleransi lubang baut 1 mm.
    • Sekrup memiliki diameter 6 mm – 20 mm, panjang 25 mm – 300 mm.
  • Persyaratan bahan:
    • Mutu kayu yang digunakan adalah kayu kelas I atau setara kelas I yang dibuktikan dengan pengujian.
    • Bahan pendukung mencakup pelat baja, baut sambungan, palu, dan klem sesuai dengan gambar rencana.
  • Persyaratan kerja:
    • Pengajuan kesiapan kerja dan pengajuan program pekerjaan pemasangan struktur termasuk metode pelaksanaannya.

8. Tiang Pancang

8.1. Umum

  • Mencakup tiang pancang yang disediakan dan dipancangkan.
  • Jenis tiang pancang:
    • Tiang kayu crucuk.
    • Tiang baja profil.
    • Tiang pipa baja.
    • Tiang beton bertulang pracetak.
    • Tiang beton prategang pracetak.
    • Tiang bor beton cor langsung di tempat.

8.2. Persyaratan

8.2.1. Standar Rujukan

  • SNI.
  • AASHTO.
  • ASTM.

8.2.2. Toleransi:

  • Lokasi tiang pancang tidak boleh melampaui 75 mm dalam segala arah.
  • Kemiringan tiang pancang, penyimpangan maksimum arah vertikal 20 mm per meter.
  • Kelengkungan maksimum 1% dari panjang tiang.
  • Kelengkungan lateral 0,7‰ panjang total tiang.
  • Diameter lubang tiang bor +0 sampai +5% dari diameter nominal.

8.2.3. Pengajuan Kesiapan Kerja:

  • Pastikan sudah ada gambar kerja.
  • Buat program pemancangan.
  • Buat perhitungan rancangan.
  • Gunakan rumus pemancangan.
  • Gunakan alat pancang yang sesuai.
  • Buat metoda penyambungan tiang.
  • Usulkan pengujian tiang.
  • Berikan contoh data tiang pancang yang akan digunakan.

8.3. Pelaksanaan

8.3.1. Tiang Pancang Beton Pracetak

  • Umum:
    • Selimut beton minimal 40 mm, dan yang terpapar air laut 50 mm.
    • Metode penyambungan harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
  • Perpanjangan tiang pancang:
    • Baja tulangan dengan overlap 40 kali diameter.
    • Baja spiral 2 kali lingkaran penuh.
    • Mutu beton minimum fc' 35 Mpa.
  • Sepatu tiang pancang disesuaikan dengan kondisi tanah.
  • Pembuatan dan perawatan sesuai dengan spesifikasi bahan beton dan baja tulangan.
  • Saat mengangkat tiang, harus ditahan pada ¼ panjangnya.
  • Tiang diberi tanda waktu pengecoran dan panjang pada daerah dekat kepala tiang.

8.3.2. Tiang Pancang Percobaan

  • Jika diperlukan sesuai kontrak atau atas perintah Direksi:
  • Panjang tiang berdasarkan hasil uji tiang atau gambar rencana.
  • Tiang harus utuh.
  • Pemancangan tiang diberi tanda selama penetrasi.
  • Lokasi sesuai dengan gambar rencana.
  • Kepala tiang dilindungi.
  • Alat pancang harus sesuai.
  • Dilaksanakan sampai kedalaman yang disyaratkan.

8.3.3. Tiang Pancang Baja

  • Umum:
    • Jika diisi dengan beton, mutu fc' 20 Mpa.
    • Perlindungan terhadap korosi.
  • Pemancangan:
    • Alat pancang harus sesuai dengan jenis dan berat tiang yang dipancang.
    • Penghantar tiang pancang (leads) harus bebas untuk palu dan penghantar, dan diperkuat selama pemancangan.
    • Bantalan topi tiang pancang harus panjang (followers).
    • Tiang pancang yang naik akibat pemancangan yang terlalu dekat harus dipancang kembali atau diuji.
    • Pemancangan dengan water jet.
    • Tiang pancang yang cacat dicatat sebagai kerusakan.
    • Gunakan rumus dinamis untuk perkiraan kapasitas tiang pancang.
  • Pencatatan Data:
    • Nomor tiang.
    • Posisi.
    • Jenis dan ukuran.
    • Panjang aktual.
    • Tanggal pemancangan.
    • Jumlah pukulan setiap 50 cm penetrasi.
    • Energi pukulan.
    • Perpanjangan.
    • Panjang potongan.
    • Gunakan rumus dinamis pemancangan seperti Hiley, Janbu.
    • Periksa kedalaman tiang.

8.3.4. Fundasi Tiang Bor

  • Persiapan:
    • Lokasi titik bor.
    • Hasil penyelidikan tanah.
    • Jenis alat bor dan diameter.
    • Metode pengeboran.
    • Pembuatan tulangan sesuai dengan gambar rencana.
  • Pelaksanaan:
    • Bor sampai kedalaman yang disyaratkan, tetapi pastikan telah mencapai tanah keras.
    • Pasang tulangan dalam kondisi bersih.
    • Buat beton dengan mutu yang sesuai.
    • Pengecoran beton (tinggi jatuh atau langsung dengan pemompaan - W/C ratio).
    • Tentukan waktu pengecoran dan syarat pendukung lainnya.

8.4. Pengendalian Mutu

8.4.1. Analisis Pekerjaan Tiang Pancang Dinamis

  • Kasus I:
    • Kesepakatan dengan ahli teknik sistem analisis TPD untuk pengukuran gelombang tegangan dalam menentukan kedalaman TP dan kriteria pemancangan.
    • Jumlah pengujian 5% dari jumlah TP.
    • Pemancangan harus sesuai dengan kriteria (pengawasan produksi) sejumlah pengujian 20% jumlah TP untuk jaminan bahwa kapasitas mencukupi.
    • Kontrol total sebanyak 25% dari jumlah TP, nilai faktor keamanan dapat direduksi dari 3 menjadi 2.
  • Kasus II:
    • Perencana telah berkonsultasi dengan analis TPD untuk menentukan jenis TP yang paling efisien.
    • Ahli teknik sistem ATPD melakukan studi untuk beberapa jenis TP guna menentukan pilihan yang akan digunakan.
  • Kasus III:
    • Pelaksana melaksanakan pekerjaan sesuai spesifikasi, tetapi TP tidak sesuai desain.
    • Dilakukan pengujian sebelum melanjutkan pemancangan.
  • Kasus IV:
    • Terdapat kerusakan pada TP.
    • Ahli teknik melakukan pemeriksaan keutuhan menggunakan pengujian dinamis.

8.4.2. Jaminan Mutu

  • Penerimaan bahan.
  • Penyimpanan dan perlindungan bahan.
  • Tiang uji (test pile):
    • Dilakukan untuk mengetahui kepastian kapasitas daya dukung TP pada kedalaman tertentu.
    • Jumlah tiang uji minimal 1 dan maksimal 4.
    • Lokasi tiang uji dapat di dalam atau di luar lokasi proyek.
    • Pembebanan I dilakukan sesuai beban rencana dan dipantau.
    • Pembebanan II dilakukan hingga 2 kali beban rencana dengan penambahan beban interval waktu 2 jam. Jika terjadi penurunan 0,15 mm dalam waktu 15 menit, maka pembebanan dikurangi 50%.
    • Pembebanan tersebut ditahan selama 48 jam, kemudian beban ditiadakan.
    • Pembebanan dapat ditingkatkan lebih dari 2 kali dengan penambahan sebesar 100 kN sampai tiang runtuh, yaitu dengan penurunan total sebesar 25 mm atau penurunan permanen 6,5 mm.

8.5. Pengukuran dan Pembayaran

  • Pengukuran:
    • Cerucuk.
    • Pengadaan tiang pancang.
    • Pemancangan tiang pancang.
    • Tiang bor beton cor langsung di tempat.
    • Pelaksanaan tiang bor beton cor langsung di tempat yang berair.
    • Tiang uji.
    • Pengujian pembebanan tiang.
  • Dasar pembayaran:
    • Kompensasi penuh untuk penyediaan, penanganan, pemancangan, penyambungan, perpanjangan, pemotongan kepala tiang, pengecatan, perawatan, pengujian, baja tulangan, pemboran, hilangnya casing, dan sebagainya.
    • Untuk tiang bor cor ditempat, beton dibayar sesuai dengan bagian 7.1. dan baja tulangan dibayar sesuai dengan bagian 7.3.

9. Sumuran

9.1. Umum

  • Fondasi sumuran adalah komponen struktur fondasi yang berinteraksi dengan tanah secara langsung dan menyalurkan beban ke dalam tanah.
  • Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penurunan dinding sumuran yang dicor di tempat atau pracetak sesuai dengan spesifikasi dan dimensi yang tercantum dalam gambar rencana.

9.2. Persyaratan

  • Standar rujukan.
  • Pekerjaan bagian lain yang berkaitan.
  • Toleransi sesuai dengan toleransi beton.
  • Persyaratan bahan sesuai dengan bagian 7.1 dan 7.3.
  • Persyaratan kerja sesuai dengan bagian 7.1.

9.3. Pelaksanaan

9.3.1. Umum

  • Penggunaan unit beton pracetak.
  • Penurunan dinding sumuran dan penggunaan unit beton pracetak.
  • Penurunan dinding sumuran yang dicor di tempat.
  • Dimensi sumuran sesuai dengan gambar rencana.
  • Penutupan cetakan sumuran setidaknya selama 3 hari.
  • Penurunan sumuran hanya boleh dilakukan setelah kekuatan tekan beton mencapai minimal 70% dari kekuatan tekan rencana.
  • Pengisian sumuran dengan beton siklop.
  • Galian dan penurunan sumuran.
  • Pemasangan sumbat dasar sumuran.
  • Pengisian sumuran.
  • Pekerjaan penahan rembesan.
  • Pembongkaran bagian atas sumuran.
  • Pengendalian keselamatan.

9.3.2. Persiapan

  • Penentuan lokasi fondasi (staking out).
  • Pembuatan cincin sumuran sebelum mencapai kekuatan 85% fc' (tekanan rencana beton) agar tidak dipasang.
  • Penggunaan alat penggalian, baik manual, konvensional, maupun alat berat jika diperlukan.
  • Penggunaan pompa untuk menjaga tinggi air tanah agar tetap stabil jika diperlukan.

9.3.3. Pelaksanaan

  • Penurunan cincin sumuran.
  • Penggalian menggunakan gravitasi.
  • Pengecoran beton kedap air dengan kekuatan tekan 20 MPa.
  • Pengecoran beton siklop dengan volume batu besar sebanyak 1/3 dan volume beton dengan kekuatan tekan 15 MPa sebanyak 2/3.
  • Pemasangan tulangan pada bagian atas cincin sumuran dan bagian beton kedap air sebagai penghubung antara poer (pilar) dan fondasi.

Dalam pelaksanaan juga perlu diperhatikan masalah unit beton pracetak yang telah dibuat sebelumnya:
  • Unit beton pracetak dicetak pada landasan pengecoran.
  • Unit beton tersebut tidak boleh diangkut sebelum berumur 14 hari atau mencapai 85% dari kekuatan tekan beton.
  • Unit beton pracetak tersebut tidak boleh diturunkan sebelum sambungan berumur 24 jam.
  • Penurunan sumuran disesuaikan dengan kondisi tanah.
  • Dinding sumuran diturunkan dengan menggunakan gravitasi (akibat berat sendiri).
  • Dasar sumuran diberi beton.
  • Sumuran diisi dengan beton mutu K-250 hingga 1 m di bawah poer bangunan bagian bawah.
  • Bagian atas sumuran tidak boleh lebih tinggi daripada dasar poer.
  • Baja tulangan dari sumuran harus dimasukkan ke dalam poer dengan jarak 40 kali diameter tulangan.

9.4. Pengukuran dan Pembayaran

Pengukuran dilakukan berdasarkan dimensi dan panjang terpasang. Beton kedap air diukur berdasarkan meter kubik sesuai dengan bagian 7.1. Pembayaran dilakukan berdasarkan kompensasi penuh untuk penyediaan pekerja, bahan, peralatan, galian untuk penurunan dan pembuangan bahan galian, pembongkaran (jika diperlukan), penghubung, sambungan, dan semua pekerjaan pelengkap. Pembayaran didasarkan pada pengadaan dinding sumuran dan penurunan dinding sumuran.

<a href="https://www.mscengineeringgre.com/"><img src="Pengukuran dilakukan berdasarkan dimensi dan panjang terpasang.png" alt="Pengukuran dilakukan berdasarkan dimensi dan panjang terpasang"></a>

10. Adukan Semen

Adukan semen sering diabaikan dalam pelaksanaan struktur jembatan atau konstruksi jalan. Meskipun adukan semen merupakan bagian minor dalam struktur, tetap harus diperhatikan baik pada waktu pencampuran maupun pada waktu pengerjaan akhir untuk mengendalikan mutu.

Campuran adukan semen harus memenuhi persyaratan berikut:
  • Kekentalan tidak boleh lebih dari 70% dari berat semen yang digunakan.
  • Diperbolehkan untuk diaduk kembali dalam waktu 30 menit setelah pengadukan awal.
  • Adukan yang telah lewat 45 menit harus dibuang.
  • Pemasangan harus dilakukan pada permukaan yang bersih dan lembab.
  • Ketebalan adukan maksimum adalah 1,5 cm.

11. Pasangan Batu

11.1. Persyaratan

Batu:
  • Bersih, keras, tanpa bagian tipis atau retak.
  • Bentuk rata, lancip, atau lonjong.
  • Lebar harus lebih dari 1,5 kali tebalnya.

Adukan:
  • Sesuai dengan persyaratan adukan semen.

11.2. Pelaksanaan

  • Persiapan pondasi:
    • Jika diperlukan, landasan yang permeable harus dipersiapkan.
    • Pemasangan batu dilakukan dengan landasan adukan minimal tebal 3 cm.
    • Batu harus dipasang dengan muka terpanjang mendatar dan muka yang tampak harus sejajar dengan muka dinding batu yang telah terpasang.
  • Penempatan adukan:
    • Sebelum dipasang, permukaan batu harus dibersihkan dan dibasahi.
    • Ketebalan landasan adukan antara 2 cm hingga 5 cm.
  • Ketentuan lubang sulingan dan dilatasi:
    • Lubang sulingan diletakkan setiap 2 meter dengan diameter 5 cm.
    • Dilatasi dilakukan setiap 20 meter dengan dilatasi sebesar 30 mm.
  • Pekerjaan akhir pasangan batu:
    • Permukaan akhir harus memenuhi persyaratan yang ditentukan.

12. Pasangan Batu Kosong dan Bronjong

12.1. Persyaratan

  • Pasangan batu kosong:
    • Keras, awet, dan bersudut tajam.
    • Adukan pengisi untuk pasangan batu kosong harus menggunakan beton mutu K175.
  • Bronjong:
    • Kawat bronjong menggunakan baja berlapis seng yang memenuhi standar AASHTO M279 Kelas 1 dan ASTM A239.
    • Lapisan galvanisasi minimal adalah 0,26 kg/m².
    • Anyaman bronjong harus merata dan berbentuk segi enam dengan tiga lilitan, dengan lubang kira-kira 80 mm x 60 mm.
  • Batu:
    • Batu yang digunakan harus keras dan awet.
  • Landasan:
    • Landasan harus terbuat dari bahan drainase yang poros.

12.2. Pelaksanaan

  • Persiapan:
    • Melakukan galian termasuk kunci pada tumit yang diperlukan untuk pasangan batu kosong dan bronjong.
  • Penempatan bronjong:
    • Keranjang bronjong harus dibentangkan dengan kuat sehingga bentuk dan posisinya benar menggunakan batang penarik atau ulir penarik kecil sebelum mengisi batu ke dalam kawat bronjong.
    • Batu harus dimasukkan satu per satu untuk mencapai kepadatan maksimum dan mengurangi rongga seminimal mungkin. Setelah setengah tinggi bronjong terisi batu, dua kawat pengaku horisontal dari muka ke belakang harus dipasang.
  • Penempatan pasangan batu kosong:
    • Melakukan penimbunan kembali.

Penempatan batu kosong yang diisi adukan.
Ini adalah penjelasan tentang sumuran, adukan semen, pasangan batu, pasangan batu kosong, dan bronjong yang sebaiknya diperhatikan dalam pelaksanaan konstruksi.

13. Sambungan Siar Muai

13.1. Umum

  • Sambungan siar muai memiliki beberapa karakteristik:
  • Bergantung pada jenis pergerakan struktur.
  • Dapat menahan perubahan temperatur dan kondisi cuaca.
  • Fleksibel dan mampu menahan beban dinamis kendaraan, sehingga memberikan kenyamanan.

Jenis-jenis sambungan siar muai antara lain:
  1. Sambungan siar muai terbuka:
    • Berbentuk pelat, baja siku, atau baja bergerigi.
    • Tahan terhadap karat dan dilindungi dari korosi.
    • Menggunakan baja dan baut angkur sebagai sambungan.
  2. Sambungan siar muai tertutup:
    • Terbuat dari bahan neoprene atau aspal karet.
    • Tahan terhadap cuaca.
    • Fleksibel dan dapat menahan beban dinamis, sehingga memberikan kenyamanan.

13.2. Siar Muai (Jenis Asphaltic Plug)

Bahan yang digunakan dalam siar muai jenis asphaltic plug antara lain:
  • Bahan pengikat bitumen berbahan karet.
  • Campuran bitumen, polimer, filler, dan agen aktif permukaan.
  • Agregat ukuran tunggal.
  • Kekerasannya setara dengan basalt, gristone, gabbro, atau granit.
  • Bentuknya kubus dengan ukuran 14 mm-20 mm.
  • Tahan terhadap suhu hingga 150 derajat Celsius.

Komponen lainnya dalam siar muai jenis asphaltic plug adalah:
  • Pelat baja yang dapat menahan pemuaian akibat panas saat pemasangan.
  • Ketebalannya disesuaikan dengan lebar celah sambungan.
  • Angkur yang ketebalannya tergantung pada lebar celah sambungan dan pergerakan yang terjadi, dengan ketebalan minimum 75 mm dan lebar 40 cm.
  • Mortar berupa epoxy resin dengan kekuatan lentur 5 MPa, yang diperkuat dengan CFRP untuk menahan geseran.
  • Sealant karet untuk sambungan, dengan elongasi lebih dari 300% dan kekerasan kurang dari 10 Hs.
  • Hubungan antara karet dan mortar menggunakan perekat yang memiliki elongasi lebih dari 100% dan kekuatan tarik lebih dari 5 MPa.
  • Bahan dasar sambungan menggunakan joint priming compound sesuai spesifikasi pabrik.

13.3. Sambungan Siar Muai Tipe Khusus

Sambungan siar muai tipe khusus digunakan untuk jenis pergerakan struktur yang lebih besar. Pemilihan bahan untuk sambungan ini bergantung pada:
  • Jenis pergerakan struktur.
  • Ukuran celah sambungan.
  • Tingkat kepentingan struktur.

14. Landasan Jembaatan

14.1. Umum

Pergerakan pada jembatan umumnya disebabkan oleh beberapa faktor:
  • Pemuaian dan penyusutan akibat perubahan suhu.
  • Lendutan akibat beban.
  • Pergerakan tanah.
  • Gaya sentrifugal dan longitudinal akibat kendaraan.
  • Kombinasi dari semua gaya tersebut di atas.

Untuk menahan pergerakan tersebut, landasan jembatan harus memiliki beberapa karakteristik:
  • Awet.
  • Mudah pemeliharaan.
  • Mudah pemasangan dan penggantian.
  • Murah.

Landasan merupakan sistem yang meneruskan gaya dan meredam getaran dari bagian atas jembatan ke bagian bawahnya. Landasan terdiri dari bantalan (seperti karet atau logam) dan dudukan bantalan (seperti adukan mortar atau bahan lainnya). Bantalan berfungsi untuk meredam getaran dan menyalurkan beban dari bagian atas jembatan ke bagian bawahnya. Bantalan dapat terbuat dari bahan seperti karet alam atau sintetis, logam, atau bahan lainnya. Jenis bantalan yang digunakan bervariasi sesuai kebutuhan, seperti jenis sendi, rol, atau pot.

14.2. Bantalan Karet

Dalam pelaksanaan landasan, perhatikan hal-hal berikut:
  • Pengadaan bantalan sekitar 30 hari sebelum fabrikasi.
  • Melakukan pengujian pada semua bantalan sebelum dipasang, termasuk uji tekan, uji geser, dan pengujian bahan.
  • Persiapan landasan bantalan.
  • Penggunaan baut dan leveling yang tepat.

Jenis bahan bantalan karet yang digunakan antara lain:
  • Karet alam.
  • Karet sintetis.
  • Campuran karet alam dan sintetis.

Perlu dihindari penggunaan aditif dan filler yang berlebihan dalam bahan karet, karena dapat menyebabkan komposisi kimia dan reaksi kimia yang buruk, seperti retak, permukaan yang menggelembung, dan kehilangan elastisitas akibat pengaruh ozon.

14.3. Persyaratan Bahan Bantalan Karet

Beberapa persyaratan untuk bahan bantalan karet adalah:
  • Bahan harus memiliki tingkat kekerasan yang cukup, dengan nilai hardness 55 ± 5 duro.
  • Untuk bantalan karet dengan ketebalan lebih dari 1 inci, digunakan laminasi antara pelat baja dan karet.
  • Perlu dilakukan uji kelekatan (geser) antara pelat baja dan karet.
  • Bahan karet perlu melalui uji penuaan sesuai standar ASTM 573, dengan pemuluran hingga putus sebesar 50%, perubahan kuat tarik maksimum 15%, dan kekerasan maksimum 10 Hs.
  • Kandungan bahan polymer dalam campuran karet tidak boleh melebihi 60% dari volume total bantalan.
  • Ketebalan pelat baja minimum adalah 1/16 inci.
  • Ujung-ujung pelat baja yang tertanam harus tidak tajam.

14.4. Pengujian Bantalan Karet

Pengujian bantalan karet dilakukan oleh laboratorium yang terakreditasi atau diakui, dan meliputi:
  • Pengujian overload untuk semua bantalan karet.
  • Pengujian geser terhadap 10% dari bantalan karet yang diuji.
  • Bahan juga diuji untuk mengetahui komposisi, kekerasan, pelapukan, dan lainnya.

Mutu bantalan karet harus memenuhi beberapa kriteria, antara lain:
  • Tidak memiliki cacat secara visual, seperti benjol, gelembung, atau sobek.
  • Sesuai dengan spesifikasi dan desain yang ditentukan.

15. Sanndaran

15.1. Umum

  • Termasukkan penyediaan, fabrikasi, dan pemasangan sandaran baja.
  • Termasukkan juga proses galvanisasi atau pengecatan, tiang sandaran, pelat dasar, baut angker, dan sebagainya.

15.2. Persyaratan

15.2.1. Toleransi

  • Diameter lubang: +1 mm hingga -0,4 mm.
  • Tiang sandaran tegak: kurang dari 3 mm per meter tinggi.
  • Railing harus segaris dengan toleransi 3 mm.
  • Harus tampak halus dan seragam pada posisi akhir.

15.2.2. Bahan Sandaran

  • Gunakan baja rol dengan tegangan leleh 2800 kg/cm2.
  • Gunakan baut penahan berbentuk U dengan diameter 25 mm (ASTM A307) dan lindungi dengan perlindungan.

15.2.3. Persyaratan Kerja

  • Sesuaikan dengan gambar rencana.
  • Sertifikat pabrik yang menunjukkan mutu baja dan pengelasan harus ada.

15.3. Pelaksanaan Sandaran

  • Sandaran akan difabrikasi.
  • Pengelasan dilakukan oleh tenaga trampil yang bersertifikat.
  • Galvanisasi harus sesuai dengan AASHTO M111-04, kecuali jika sudah memiliki tebal minimal 80 mikron.
  • Pemasangan harus sesuai dengan bagian 7.4.

16. Pembongkaran Struktur

  • Pembongkaran dilakukan tanpa merusak bagian struktur lainnya.
  • Pembuangan bahan bongkaran tidak boleh menimbulkan dampak lingkungan atau hambatan lainnya.
  • Bahan bongkaran yang masih bisa digunakan adalah milik pemilik dan harus diamankan.
  • Pembongkaran bangunan bawah struktur lama jembatan harus dilakukan hingga kedalaman -30 cm di bawah dasar sungai dan rongga ditimbun kembali.

17. Papan Nama Jembatan

  • Ukuran minimal: 40 x 60 cm2.
  • Gunakan bahan marmer dengan lambang PU.
  • Toleransi ± 10 cm.
  • Letaknya harus sesuai dengan ketentuan dan dipasang pada parapet.
  • Tulisan yang harus ada (MARKING):
    • Nomor jembatan.
    • Nama jembatan.
    • Lokasi.
    • Data teknis.
    • Tahun pembangunan.

18. Turap

  • Pekerjaan meliputi turap kayu, baja, dan beton pracetak.
  • Lokasi kepala turap harus sesuai dengan gambar rencana dengan pergeseran lateral maksimum 75 mm.
  • Bahan turap harus disetujui sebelum dipasang.
  • Jika diperlukan, dapat dilakukan pengujian tiang turap untuk menentukan panjang turap yang diperlukan.

19. Pipa Cucuran

  • Pipa cucuran adalah pipa pembuangan air hujan yang terletak pada lantai jembatan menuju ke bawah.
  • Diameter minimum: 75 mm.
  • Gunakan bahan baja galvanis.
  • Panjang pipa cucuran harus 20 cm lebih panjang dari bagian terbawah struktur utama bangunan atas.

20. Parapet

  • Parapet adalah bagian dari jembatan yang berfungsi untuk mengarahkan lalu lintas sebelum masuk ke jembatan.
  • Gunakan bahan pasangan batu dengan ketinggian dan dimensi yang sesuai dengan gambar rencana.
  • Harga terpasang dalam meter kubik sesuai dengan gambar rencana.

Kesimpulan

Spesifikasi jembatan adalah suatu pedoman yang mengatur tentang persyaratan, pelaksanaan, pengendalian mutu, pengukuran, dan pembayaran dalam pembangunan jembatan. Spesifikasi ini mencakup beberapa komponen penting seperti beton, beton pracetak, baja tulangan, baja struktur, kayu, tiang pancang, sumuran, adukan semen, pasangan batu, pasangan batu kosong, sambungan siar muai, landasan jembatan, sandaran, pembongkaran struktur, papan nama jembatan, turap, pipa cucuran, dan parapet. Setiap komponen memiliki persyaratan khusus dan prosedur pelaksanaan yang harus diikuti untuk memastikan kualitas dan keamanan jembatan yang dibangun.

Ustek Pengawasan Jembatan

Ustek Pengawasan Jembatan memiliki peran penting dalam menjaga keamanan, keandalan, dan kelangsungan operasi jembatan. Dengan menggunakan metodologi pengawasan yang sistematis, ustek pengawasan jembatan melakukan pemantauan, pengujian, evaluasi, dan memberikan rekomendasi teknis yang relevan. Mereka juga dapat memberikan usulan teknis seperti perawatan rutin, perbaikan struktural, pemasangan sistem monitoring otomatis, dan peningkatan desain. Melalui laporan pengawasan yang komprehensif, ustek pengawasan jembatan memberikan informasi yang penting untuk menjaga integritas struktural jembatan dan menjaga keselamatan pengguna.

FAQs

Berikut adalah pertanyaan yang sering ditanyakan tentang spesifikasi jembatan:

1. Engineer: Apa itu spesifikasi jembatan?

MSc: Spesifikasi jembatan adalah dokumen yang mengatur persyaratan, pelaksanaan, pengendalian mutu, pengukuran, dan pembayaran dalam pembangunan jembatan.

2. Engineer: Apa saja komponen yang diatur dalam spesifikasi jembatan?

MSc: Komponen yang diatur dalam spesifikasi jembatan antara lain beton, beton pracetak, baja tulangan, baja struktur, kayu, tiang pancang, sumuran, adukan semen, pasangan batu, pasangan batu kosong, sambungan siar muai, landasan jembatan, sandaran, pembongkaran struktur, papan nama jembatan, turap, pipa cucuran, dan parapet.

3. Engineer: Mengapa spesifikasi jembatan penting?

MSc: Spesifikasi jembatan penting untuk memastikan bahwa konstruksi jembatan memenuhi standar kualitas dan keamanan yang ditetapkan. Hal ini penting untuk mencegah kerusakan struktural, menjamin daya tahan jembatan, dan melindungi pengguna jembatan.

4. Engineer: Bagaimana spesifikasi jembatan mempengaruhi kualitas jembatan?

MSc: Spesifikasi jembatan mempengaruhi kualitas jembatan dengan menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi dalam setiap tahapan konstruksi. Dengan mengikuti spesifikasi yang benar, kontraktor dapat memastikan bahwa bahan yang digunakan dan metode pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

5. Engineer: Siapa yang menentukan spesifikasi jembatan?

MSc: Spesifikasi jembatan biasanya ditetapkan oleh badan atau lembaga yang berwenang dalam pembangunan infrastruktur jembatan, seperti departemen pekerjaan umum atau lembaga pengatur jembatan.


Penutup

Spesifikasi jembatan adalah panduan yang penting dalam pembangunan jembatan. Dalam spesifikasi ini, berbagai komponen seperti beton, baja, kayu, dan lainnya diatur dengan persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan konstruksi. Mengikuti spesifikasi dengan cermat adalah kunci untuk memastikan kualitas, keamanan, dan keberhasilan jembatan yang dibangun. Dengan mematuhi spesifikasi ini, jembatan dapat dibangun dengan standar yang tinggi dan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.